gmail Linkedin twitter instagram
  • Home
  • About
  • Contact

nabilatara

a little piece of my lovely journey♡

Kalau jalan-jalan ke Kota Solo rasanya kurang ya tanpa mengunjungi cafe seunik ini, apalagi buat para pecinta kucing. Sampai-sampai kalau sudah disini, rasanya nggak mau pulang karena melihat boneka-boneka lucu lari-lari bahkan kadang bermain mendekati pengunjung.


Paw Paw Cafe adalah salah satu cafe di Kota Surakarta yang memberikan suasana berbeda dari biasanya. Cafe ini memiliki beberapa cukup banyak kucing yang bisa bebas bermain dengan para pengunjung di ruangan cafe tersebut. Sebelum ke cafe ini, awalnya aku mengira kalau ada ruangan khusus untuk bermain bersama kucing. Tapi setelah berkunjung dan tau, rasa-rasanya aku lebih fokus bermain dengan kucing dibandingkan menikmati minuman dan makanan yang aku pesan. 

Sebagai orang yang suka dengan kucing, aku langsung se-excited itu ketika pertama kali masuk. Ada beberapa kucing yang menunggu di belakang pintu dan mendekat ketika aku masuk. Setelah beberapa menit di cafe, aku amati mereka memang terbiasa untuk ramah ke semua pengunjung cafe.


Alamat & jam operasional 

Alamat
Jl. Ronggowarsito No.42, Kp. Baru, Kec. Ps. Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57133

Jam Operasional
12.30 - 22.00 WIB

Peraturan
Oh yaa, ada beberapa peraturan yang cukup penting ketika berkunjung di Paw Paw Cafe. Peraturan pertama adalah setiap pengunjung memiliki minimal order makanan atau minuman di Paw Paw Cafe. 

Weekdays    : Rp 25.000/orang
Weekend      : Rp 30.000/orang

Untuk menu makanan dan minumannnya bervariasi dan tentunya enak yaaa. Kalau mau nyemil aja juga jangan khawatir karena ada menu snack loh!

Peraturan kedua, dilarang membawa makanan kucing selain yang disediakan oleh cafe. Paw Paw Cafe menyediakan makanan yang dikemas dalam bentuk cup kecil untuk para pengunjung yang gemas ingin memberi makanan ke kucing. Harga makanan kucingnya Rp 5.000/cup.

Fasilitas
Kalau tadi cerita soal peraturan, kali ini aku mau cerita tentang fasilitas menarik dari Paw Paw Cafe. Nah.. cafe ini menyediakan beberapa bantal duduk untuk setiap meja. Kalau mau sambil ngerjain tugas juga jangan khawatir, karena ada stop contact di dekat setiap meja dan jaringan wifi cafe. Tapi, ada suatu fasilitas yang cukup menarik buatku, yaitu area membaca untuk pecinta buku. Kalau nggak bawa buku dari luar, Paw Paw Cafe menyediakan beberapa buku bacaan di rak buku. Jadi, kebayang kan? membaca buku ditemani banyak kucing yang menggemaskan.


Desain
Karena menjadi tempat hidup kucing, cafe ini di desain seperti rumah kucing sungguhan. Ada banyak tempat pup kucing di beberapa sisi ruangan. Sedangkan di dinding ruangan, ada tangga-tangga kayu sebagai hiasan dan tentunya untuk kucing melompat dan lari-larian. Nggak ada tempat tidur khusus untuk kucing, tapi ada banyak benda yang bisa menjadi tempat nyaman buat mereka untuk tidur seperti ayunan. Saat kesana, beberapa kucing aku lihat tidur di sofa pengunjung.


*Bonus pict - potret kucing kucing paw paw




Gimana, pastinya tertarik kan buat berkunjung ke Paw Paw Cafe buat ketemu mereka? 

With love, Tara.
Februari 21, 2021 4 komentar
Walaupun sudah masuk ke bulan kedua tahun 2021, tetap saja tahun 2020 masih memberikan vibes yang mengesankan hingga saat ini. Tentang kehidupan sehari-hari, perkuliahan, achievement, organisasi, pun tentang friendship.. semuanya mengesankan dan memberikan cerita terbaiknya masing-masing. 


Menemukan rumah ternyaman
Setelah 7 tahun merantau dan jauh dari keluarga, kembali tinggal di rumah selama masa pademi 2020 kemarin memberi kesempatan untukku merasakan lagi nyamannya suasana rumah. Mulai dari bercerita dan curhat di kamar mama setiap hari, mengurus kucing-kucing liar yang kemudian di adopsi menjadi bagian keluarga sendiri, ngobrol dengan ayah tentang segudang pengalaman-pengalamannya, hingga nitip jajan sama adik ketika dia mau keluar rumah. Ah! kalau saja ada pilihan untuk stay di rumah saja tanpa ada kewajiban yang mengharuskan kembali ke daerah kampus, aku memilih untuk tetap di rumah saja bersama mereka. 

Bulan April 2020 lalu, aku berpikir kalau datangnya pandemi Covid-19 mutlak sebagai musibah tanpa ada manfaat yang bisa diambil. Tapi setelah beberapa bulan stay di rumah, aku bahagia dan rasanya nggak pingin merantau ke Jawa lagi. Mungkin saat awal-awal di rumah cukup sulit buatku beradaptasi karena 7 tahun sebelumnya terbiasa tinggal jauh dari keluarga. Tapi setelah sadar.. aku sepakat dengan kata orang-orang kalau keluarga adalah rumah ternyaman untuk ditempati. 

Melihat perubahan yang positif
Waktu jaman sekolah dulu, aku sempat bilang ke sahabat-sahabatku kalau dimanapun kita melanjutkan kuliah nanti, kita tetap harus main bareng. Tapi nyatanya dengan kondisi teman-temanku yang kuliah masih dalam satu kota dan hanya aku sendiri yang kuliah di beda provinsi, aku menjadi yang paling jarang ikut main kalau mereka ada agenda. 

Sebelumnya nggak terbayang kalau akhir 2020 kemarin akan ada kesempatan aku bisa bertemu mereka lagi. Saat ketemu mereka, aku melihat perubahan yang positif dari sahabat-sahabatku. Kalau dulu saat sekolah nggak aktif di organisasi, sekarang jadi sibuk sana sini buat organisasi. Kalau dulu males-malesan buat ngembangin diri, sekarang pada semangat buat ikut kompetisi dan mencari pengalaman sampai luar negeri. Melihat mereka, aku jadi terpacu untuk bisa berkembang juga seperti mereka dengan caraku. 

Terlepas dari perubahan menjadi lebih baik, mereka masih tetap hangat seperti dulu. Mulai dari bercanda, curhat, gosip, merencanakan kegiatan-kegiatan seru kedepannya.. nggak ada yang berubah. Kalau ditanya apa cerita terbaik buatku selama 6 tahun merantau di Malang, aku akan menceritakan masa-masa SMA-ku bersama mereka. Semoga kalian selalu sehat dan semangat ya!


Belajar leadership dan bekerja dalam tim
Untuk pertama kalinya mendapat kesempatan menjadi koordinator dalam organisasi di tahun 2020. Awalnya cukup sulit beradaptasi karena minimnya pengalaman untuk memimpin dan bekerja sama. Tapi lambat laun mulai paham dan menemukan cara ternyaman untuk memimpin dan bekerja dalam tim. Kalau sebelumnya masih suka membawa mood ketika berogranisasi, sekarang sudah belajar menyesuaikan diri untuk profesional dan nggak bawa-bawa perasaan. Kalau dulu masih sering membawa ego pribadi, sekarang jadi belajar buat mendengarkan dan menerima masukan orang lain. Bentuk pelaksanaan organisasi secara daring sudah pasti berbeda dengan saat luring. Tapi semoga akan ada kesempatan lagi untuk belajar menyesuaikan kondisi di antara keduanya.

Tentang ikhlas dan pencapaian
Aku ingin putar balik di tahun 2019. Saat itu ada suatu kondisi yang menyebabkan aku harus membayar sejumlah materi atas dasar menunaikan kewajiban untuk memenuhi tanggung jawab. Dulu aku berpikir kalau apa yang aku terima nggak pernah adil dan selalu menggangguku. Rasa-rasanya, saat di penghujung tahun 2019, aku nggak kuat lagi berjuang untuk tahun-tahun selanjutnya karena berbagai macam tekanan.

Tapi aku sadar kalau Allah selalu memberikan skenario terbaik untuk seluruh hamba-Nya. Apa yang kurasa nggak adil sebelumnya nggak ada apa-apanya dengan seluruh kebaikan-kebaikan yang Allah berikan di tahun selanjutnya. Aku berniat awalnya ingin mengumpulkan materi dengan berambisi mendapat hadiah dari ikut serta dalam kompetisi-kompetisi. Tapi dibalik itu, aku belajar banyak hal ketika terjun dalam ambisi-ambisiku. Ilmu yang aku dapatkan ketika mengikuti perlombaan jauh lebih-lebih bernilai dari ketidakpercayaanku mengatasi masalah-masalah sebelumnya. Mungkin melalui jalan ini, aku diberi pentunjuk untuk dapat menyelesaikan tanggung jawabku serta memperoleh manfaat dari apa yang aku usahakan. Dibalik itu, hal yang akan selalu kuingat adalah perjuangan teman-teman kuliahku yang sudah menguatkan dan sangat banyak membantu menyelesaikan permasalahanku. Mereka adalah yang terbaik dari cerita-cerita terbaik lainnya. 

Setiap orang pasti memiliki kebahagiaan dengan ceritanya masing-masing di 2020. Tapi kalau aku, aku bahagia bisa menemukan titik ternyaman dan arti tanggung jawab. 

With love, Tara.
Februari 12, 2021 No komentar

Tak jua berkutik, senyap dalam masa-masa pelik
Mendengar saluang1 mengalun musik—hingga bungkam sebab terpukau, walau alih-alih jadi berisik.
 
Setahun lalu
Sejak dongeng peri kecil tak lagi menggebu
Dunia beralih gesit bak akar bakau yang saling memeluk
Merakit sebuah jaring-jaring tanpa pola bersatu, menyentuh angan-angan
Juga—sehektar ilalang tak lagi menghijau, sedang ladang kian kecil menggulung lucu. Apakah salah bila hari-hari terasa palsu?
 
Kemarin
Orang-orang kota sibuk memantau arloji—berbalur jubah kaku penuh arti, menunggu hujan sembari meneguk secangkir wedang2. Sesekali melukis sketsa jiwa yang didamba.
Atau, merangkai harmoni dalam sebuah alkisah baru.
Apakah salah bila jemari tak henti melagu?
 
Malam ini,
Kala sepotong sajak terdengar merdu di hati—mengiang lembut walau pandai menjelma bagai duri yang menusuk
Hingga talamus3 memancar setiap jerit kata yang tak terdengar bagimu
Berhimpun mengusik sepi, berbondong mengganggu waktu sendiri. Duhai kamu, apakah salah bila detik-detikku terasa halu?

1Alat musik dari Sumatra Barat
2Minuman tradisional
3Organ manusia yang memancarkan sinyal sensorik dan motorik

With love, Tara.
Februari 03, 2021 No komentar
Lima hari yang lalu aku menggunakan jasa Kereta Api Indonesia untuk berpergian dari Malang menuju Kota Surakarta. Sebelumnya sudah beberapa kali berpergian menggunakan KAI, namun cukup bisa dihitung jari. Nah pada perjalanan ini aku tertarik menggunakan layanan KAI kembali untuk kelas eksekutif. 


Cara memesan tiket melalui aplikasi KAI Access
1. Pada halaman awal aplikasi dapat segera menulis stasiun kota asal dan stasiun tujuan, kemudian mengisi tanggal keberangkatan dan tanggal pulang (untuk pemesanan tiket pulang-pergi). Setelah itu, pilih kategori kelas kereta untuk memudahkan pencarian tiket, kemudian isi jumlah dan kategori penumpang. 
2. Setelah klik cari, pilih tiket yang sesuai. 
3. Isi data penumpang.
4. Pilih kursi yang sesuai. 
5. Proses pembayaran. 
6. Setelah proses pembayaran selesai, tiket yang sudah dibeli bisa di akses di menu tiket.
7. Unduh e-ticket pada 2 jam sebelum jadwal keberangkatan. 

Syarat-syarat melakukan perjalanan menggunakan KAI 2021
1. KTP
2. Tiket (boleh berupa e-ticket)
3. Surat Rapid Test Antigen (untuk area Pulau Jawa)
4. Masker

Sebenarnya selain membawa 4 persyaratan itu, aku juga membawa face shield. Tapi ternyata, aku mendapat face shield gratis yang disediakan oleh KAI.

Setelah melakukan pembelian tiket dan mempersiapkan persyaratan-persyaratannya, saat check-in tiket di Stasiun Kepanjen Malang aku diminta untuk menunjukkan dokumen-dokumen persyaratan dan terdapat pemeriksaan suhu tubuhku. Kemudian, aku menunggu kereta datang di waiting room sekitar 10 menit hingga KAI Malabar datang. Bagi pengguna yang jarang perjalanan menggunakan kereta api, aku masih belum begitu hafal letak gerbong-gerbongnya. Tapi nggak jadi masalah sih karena setelah check-in saya diarahkan oleh petugas menuju gerbong eksekutif. 

Setelah menemukan seat, aku berniat meletakkan barang bawaan di bagasi atas. Tapi karena sangat berat, barang-barangnya aku taruh di kursi samping karena kebetulan setelah bertanya pada pramugara kereta aku diinformasikan kalau tidak ada penumpang di kursi sebelah hingga Stasiun Solo Balapan.  Oh yaaa, ini kaadaan di gerbong eksekutif.



Kursinya nyaman dan ada tempat untuk pijakan kaki. Selain itu jarak antara kursi dengan kursi depannya agak jauh dan nggak hadap-hadapan seperti di kelas ekonomi. Menurutku kalau untuk perjalanan jauh lebih baik menggunakan layanan eksekutif karena selain nyaman, ingin melakukan apapun jadi nggak sungkan ke penumpang lain seperti penumpang yang berhadapan dengan kita di kelas ekonomi. Kadang kalau perjalanan jauh apalagi sampai lebih dari 5 jam suka pingin ngelakuin hal lain selain duduk seperti makan, tidur, lihat film di laptop, streaming YouTube dan hal lainnya dan bakal sungkan atau gak nyaman kalau penumpang dihadapan kita ngeliatin gerak gerik kita. Selain itu, kadang bisa ngga nyaman di kelas ekonomi juga kalau perjalanan jauh karena satu seat bisa muat 3 orang dan nggak ada pembatasnya, jadi nggak bisa bebas kalau mau gerak. 

By the way, setelah dua jam perjalanan lumayan haus juga, terlebih lupa nggak bawa minuman dari rumah. Kalau diingat-ingat dari perjalanan sebelumnya yang menggunakan KAI, beberapa kali ada petugas yang keliling menjual konsumsi. Karena saat itu nggak ada petugas yang lewat dan saya males gerak untuk mencari food centre-nya, aku memilih untuk memesan minuman melalui WhatsApp. Nah ternyata, penyediaan dan pelayanan konsumsi di KAI diwadahi oleh PT Reska Multi Usaha (PT. RMU).

Cara memesan makanan di kereta api melalui layanan pesan WhatsApp
1. Hubungi nomor 08111755121 sebagai nomor pusat pemesanan makanan dengan format Kode Booking Tiket KA/Menu/Jumlah. Contoh: LVI4TOQ/Chappuccino/1.
2. Setelah mendapat balasan dan pemesan sudah konfirmasi pemesanan yang sesuai, petugas KAI akan datang membawa pesanan ke tempat kita.


Menurutku service memesan makanan seperti ini lebih fleksibel dan mudah, apalagi di masa pandemi seperti ini yang mana harus membatasi kontak dengan orang lain. Selain itu, nggak perlu nunggu lama menunggu pesananannya datang. Saat itu, setelah konfirmasi pesanan dan menunggu sekitar 20 menit, crew datang dan membawa pesananku dengan ramah. Oh yaaa kebetulan kemarin aku sempat mengabadikan kontak PT. RMU di berbagai platform yang tertera di kemasan chappuccino.


Buat temen-temen yang ingin berpergian jauh menggunakan jasa KAI, tetap mematuhi protokol kesehatan yaaa dan jangan lupa bawa persyaratan-persyaratan yang sudah ditentukan!

With Love, Tara.
Januari 15, 2021 No komentar

Akhir-akhir ini pembicaraan soal budaya patriarki cukup menarik dan sering muncul di media sosial. Awalnya nggak ngerasa begitu terkena oleh dampaknya,  tapi kalau dipikir-pikir ternyata selama ini cukup terdampak. Mungkin karena hal tersebut sudah menjadi sesuatu yang seolah-olah normal di lingkunganku dan kebetulan belum ada yang pernah speak-up, jadi aku kurang menyadarinya. 

Banyaknya gerakan feminisme membuatku sadar, kalau banyak perempuan-perempuan diluar sana yang ingin memperjuangkan hak mereka untuk memiliki kesetaraan dengan laki-laki. Aku rasa gerakan berbau feminisme itu nggak ada tanpa penyebab. Tapi setelah aku cari dan mendengarkan suara-suara perempuan dari berbagai platform seperti maraknya kekerasan, kesenjangan kedudukan dalam dunia kerja, intimidasi terhadap perempuan—aku setuju dengan kesetaraan gender yang seharusnya diperjuangkan. 

Tentang perbedaan gender
Bukan sesuatu yang asing terdengar kalau di lingkungan kita perempuan seolah-olah memiliki kedudukan di bawah laki-laki. Nggak tau pasti penyebabnya apa, tapi aku sering dengar kalau perempuan adalah kaum yang lebih lemah dari laki-laki. Kalau yang aku tangkap, lemah dalam artian ini adalah lemah secara fisik dan lemah secara mental. Padahal, belum tentu begitu benarnya. Stigma-stigma itu muncul karena sudah terlalu melekat di pikiran masyarakat.

Aku masih ingat kalau setahun lalu saat pemilihan ketua di suatu komunitas, orang-orang terdekatku bilang kalau calon-calonnya hanya bisa diperankan oleh anggota laki-laki saja. Saat aku tanya penyebabnya, beberapa dari mereka mengatakan kalau perempuan terlalu memakai perasaan dalam hal apapun, sehingga dikhawatirkan tidak cukup kuat memimpin suatu program kerja yang dirasa cukup berat dan menantang. Pikiran-pikiran yang belum tentu mutlak benar tersebut bisa berpengaruh besar terhadap suatu hal seperti dalam memilih pemimpin. Padahal dalam dunia profesional, baik perempuan atau laki-laki seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi leader. Kemampuan memimpin seharusnya dipertimbangkan dari kapabilitas seseorang, namun mengapa masih sering dikaitkan dengan perbedaan gender?

Hal yang cukup mengganggu lainnya ketika masyarakat secara tidak langsung membatasi perempuan untuk mengenyam pendidikan tinggi dengan alasan takut tidak 'laku' atau tidak ada yang ingin menikahi. Pun juga sering menjadi bahasan diskusi tentang bagaimana perempuan mengambil peran ketika sudah menikah atau berkeluarga. Laki-laki sebagai kepala keluarga berhak melakukan apapun yang diinginkan, sedangkan perempuan memiliki batasan-batasan untuk menjalani hidupnya. Namun buruknya, budaya itu bisa membuat laki-laki menjadi seenaknya mengatur-ngatur istrinya tanpa memenuhi hak-haknya, atau bahkan bisa jadi menyakiti istrinya karena merasa diri sendiri paling berkuasa. Dalam kehidupan masyarakat, perempuan yang seolah-olah ditakdirkan memiliki banyak batasan serta laki-laki yang ditakdirkan memiliki kebebasan itu real & masih eksis hingga saat ini. 

Mungkin sering terdengar juga kalau perempuan hidup untuk menikah dengan laki-laki. Seolah-olah, tujuan hidup perempuan adalah untuk menikah dan menjadi istri. Padahal, tujuan setiap orang hidup di dunia ini adalah untuk menjadi bermanfaat. Pun ketika perempuan memutuskan untuk menikah dan berkeluarga, tujuan hidupnya adalah tetap untuk menjadi bermanfaat. Baik bermanfaat untuk keluarganya, untuk lingkungannya, atau untuk dirinya sendiri. Nggak seharusnya mengutamakan pernikahan sebagai tujuan hidup perempuan. Kalau orang-orang sekitar banyak yang bilang perempuan harus segera menikah sebelum umur sekian sesuai standart masyarakat, aku kira itu salah dan nggak seharusnya seseorang mengatur pilihan hidup orang lain untuk bagaimana dan menjadi apa. Sebab, selama pilihan hidup seseorang tidak merugikan orang lain, apa yang perlu dipermasalahkan?

Keep being positive!

With Love, Tara.

Desember 12, 2020 No komentar
Beberapa hari terakhir cukup sibuk dengan kegiatan kampus dan kegiatan lain, sampai-sampai ingin banget keluar walau cuma sekedar ke pantai dekat rumah. Senin lalu setelah kelas aku langsung ke pantai, padahal terik lagi kuat-kuatnya karena masih jam 2 siang. 

Awalnya cuma ingin menikmati es kelapa muda aja sambil duduk-duduk santai. Tapi nggak tau kenapa kemarin pingin ngelilingin pantai sambil dikit-dikit hunting foto. Setelah rasanya udah lama banget folder kamera di handphone nggak keisi karena cuma dirumah aja, dalam sehari bisa langsung nambah puluhan foto waktu di pantai. Mulai dari foto selfie, foto ombak, foto deretan sampan yang lagi nggek berlayar dan foto-foto random lain yang membawaku sampai penasaran dengan area deretan rumput laut.


Nggak langsung ketemu sama area ini, karena awalnya aku bertemu dengan anak perempuan kecil yang lagi ngambil sesuatu di muara ombak. Aku mengira kalau dia lagi ngumpulin kerang, tapi setelah aku deketin ternyata itu rumput laut. Semakin aku deketin semakin banyak banyak rumput laut, bahkan hampir semua area itu ketutup sama rumput laut. Sebelumya aku sudah ke Pantai Labuhan Haji beberapa kali, tapi baru pertama kali notice tentang area rumput laut. Dan.. di Malang ataupun di Yogyakarta aku belum pernah nemu pantai yang dipenuhi rumput laut seperti ini. 


Kalau aku amati kemarin, di area rumput laut ini nggak seluruhnya bersih karena ada satu dua sampah yang nyangkut. Memang, di beberapa wilayah Pantai Labuhan Haji masih ada banyak sampah dari pengunjung yang nggak bertanggung jawab. Sudah bertahun-tahun yang lalu sejak aku SD hingga sekarang masih seperti itu, tapi bersyukur juga sih karena sebaran sampah semakin berkurang setiap tahunnya. 

Sempat lama mengamati rumput laut, uniknya mereka warna warni ya. Hijau tua, hijau muda, kuning. cokelat dan merah muda juga ada. Aku jadi ingat kalau suka beli dodol rumput laut buat oleh-oleh dari Mataram. Variasi warnanya persis dengan rumput laut asli disini. Bahkan, aku sempat berpikir kalau ingin mengambil seluruh rumput laut disini untukku olah menjadi sesuatu. 

By the way setelah cukup lama mengamati dan hari semakin sore, aku bertemu dengan dua orang ibu-ibu yang membawa kantong plastik. Berbeda dengan anak perempuan kecil tadi yang kayaknya cuma iseng-iseng ngambil rumput laut, kali ini dua orang ibu-ibu terlihat akan membawa rumput laut itu pulang ke rumah. Berhubungan dengan pikiranku sebelumnya tentang olahan rumput laut dan melihat dua orang ibu-ibu itu, aku semakin penasaran dan mendekati mereka. 

Mereka nggak sembarang ambil rumput laut, jadi memang sengaja dipilih. Kata salah satu ibu-ibu yang aku tanya, mereka mengambil rumput laut bukan untuk dijual, tapi untuk di olah menjadi beberuk. Fyi, beberuk adalah salah satu masakan khas Lombok yang terbuat dari lalapan kangkung, kacang panjang dan sambal tomat yang pedas. Tapi nggak selalu lalapan kangkung, bisa juga beberuk terbuat dari lalapan terong atau rumput laut seperti yang akan dimasak oleh ibu-ibu yang kutemui. Sayangnya, sebelum ini aku cuma pernah ketemu dengan beberuk kangkung aja. Next time kayanya aku tertarik buat nyoba beberuk rumput laut.

Finally, aku cuma mau bilang kalau kita harus tetap bertahan untuk nggak bosan karena pandemi ini. Sesekali mungkin perlu untuk keluar rumah biar nggak jenuh, asalkan nggak ke tempat keramaian yaaa. Stay safe everyone!

With Love, Tara.
November 23, 2020 No komentar

Aku yakin kalau setiap orang memiliki sesuatu yang pernah disesalkan, ntah karena kesalahan yang telah dilakukan dengan sengaja, atau.. karena kesalahan yang disebabkan ketidaksengajaan. Padahal, segala hal buruk yang pernah terjadi di masa lalu adalah bagian dari cara Allah untuk memberikan pesan-pesan kehidupan pada setiap manusia. 

Belajar dan berproses
Pernah berada dalam posisi terburuk dalam hidup karena telah melakukan kesalahan yang dirasa nggak normal jika dilakukan orang lain pada posisi yang sama. Bukan, bukan karena diri benar-benar jatuh. Tapi karena awalnya ngerasa semua adalah bagian dari kecerobohan, tapi semakin rumit dipikiran, semakin muncul hal-hal lain yang membuat otak melebih-lebihkan. And.. the only one it's about 'people minds'. Aku pernah mendengar kata-kata seorang teman kuliahku yang hingga sekarang masih ku ingat, 'Jangan mudah menghakimi orang lain, belum tentu jika kita berada di posisi-nya, kita bisa menghadapi kejadian itu lebih baik dari cara-nya'. I'm totally agree with that statement. Sekali lagi, belum tentu orang-orang yang pernah menghakimi kita bisa lebih survive dari kita ketika ia berada di posisi yang sama dan mengalami kejadian sama. Tapi, sejauh ini kalimat itu lebih cocok menjadi penenang diri ketika memikirkan hal yang nggak-nggak dari omongan dan pikiran orang lain. 

Well, ketika dulu saat belum paham, aku pernah menghakimi orang lain walau dengan cara yang tidak langsung. Aku merasa dia salah menurut pendapat pribadiku, dan itu yang membuatku menyalahkan dia. Dan, aku nggak kebayang kalau dia bakal se-kecewa itu. Mungkin itu salah satu penyebab pertemananku dan dia renggang hingga saat ini, walau saat itu sudah diselesaikan baik-baik.  Sebenarnya niatnya baik, tapi cara penyampain dariku yang salah. Aku menyesal atas kejadian itu, seharusnya aku bisa paham perihal ini lebih cepat. Tapi sejak saat itu juga, aku berusaha untuk belajar menyampaikan pesan dengan cara yang baik kepada orang-orang sekitar. Lagi-lagi, semuanya adalah soal belajar.

Sebenarnya, kejadian buruk hanya berkutat dengan kata 'proses' dan 'perbedaan'. Setiap orang memiliki jalan yang berbeda untuk berproses dalam hidupnya. Itulah kenapa kita nggak bisa menjustifikasi seseorang bahwa ia salah menurut versi kita. Kalau dia bukan orang dekat, kita nggak tau batas kemampuannya seperti apa, fokus kehidupannya adalah tentang apa dan kondisinya bagaimana ketika sedang melakukan suatu kesalahan. Setiap orang memang bebas berpendapat. Tapi, akan lebih baik kalau pendapat tentang apapun itu dilontarkan setelah ia paham betul tentang kondisi dan penyebab dari seseorang yang akan dihakimi. 

Tentang memaafkan
Suatu hal yang disesalkan di masa lalu bisa saja timbul karena kesalahan diri sendiri atau disebabkan karena orang lain. Satu hal yang masih menjadi keresahan hingga sekarang adalah mengapa begitu sulit memaafkan orang yang sudah membuat kenangan buruk dalam memori. Aku sendiri belum tau jawabannya. Bahkan, kadang sempat berpikir kalau manusia hanya butuh orang lain untuk dibenci karena kita butuh pembelaan kalau kita benar, menurut versi kita sendiri. Padahal itu salah, sebab otak tau tentang 'kebenaran' siapa yang salah dan siapa yang sedang disalahkan—hanya karena diri sendiri butuh pembelaan. Dalam pengalamanku yang pernah melakukan kesalahan tapi malu karena sempat dihakimi orang lain dengan cara yang tidak sesuai dengan keinginanku, pada keberjalanannya dalam hati aku malah sempat menyalahkan orang lain itu. Mungkin dalam hal ini, seharusnya aku memaafkan seseorang karena kesalahan yang sebenarnya, yaitu menyampaikan kritik dengan cara yang salah. Bukan karena kesalahan seseorang karena pandangan yang dibuat-buat sendiri. 

Seharusnya, ada baiknya kalau kita menghadapi kesalahan di masa lalu hanya melihat sisa baiknya saja agar tidak belarut-larut terlalu lama. Setelah berhasil mengambil sisi baiknya, kita perlu 'beraksi' untuk memperbaiki kesalahan sebelumnya. Entah pada akhirnya akan berhasil diperbaiki atau tidak, yang penting sudah berusaha sepenuhnya. Mungkin Allah ngin melihat manusia berjuang dengan cara demikian. Semestinya, sesederhana itu yang muncul dipikiran manusia. Sehingga, nggak ada orang lain yang disalahkan dan dibenci, nggak ada pikiran yang dilebih-lebihkan dan menjadi toxic di pikiran sendiri. 

Kalau sudah berhasil memaafkan orang lain yang telah menjadi bagian dari memori buruk kita, selanjutnya adalah berdamai dengan memaafkan diri sendiri. Memang, butuh usaha dan waktu yang lama. Tapi harus terus diusahakan, harus terus dicoba perlahan. Kalau belum bisa berdamai dengan diri sendiri, bagaimana cara kita melihat sisi positif yang lain dari diri kita? Setiap orang bisa saja membuat kesalahan, setiap orang bisa saja gagal, tapi setiap orang juga pasti punya hal positif lain yang perlu disyukuri kan? Dan.. orang terdekat yang bisa menghargai dan mengapresiasi hal positif pada diri kita adalah diri kita sendiri. Kalau orang lain melihat diri kita lebih unggul atas kesalahan dan kelemahan, maka kita nggak boleh melihat hal yang sama seperti padangan orang lain. That's the importans of make peace with our self. 

Masa lalu adalah milik kita, baik atau buruk sudah semestinya disyukuri. Masa depan adalah milik kita, akan menjadi baik atau buruk sudah seharusnya diperjuangkan. Nggak ada yang perlu disesalkan dari masa lalu dan nggak ada yang perlu dikhawatirkan tentang masa depan kalau kita janji akan selalu berusaha menjadi lebih baik. Keep spread love to our self and others!

With Love, Tara.
November 11, 2020 No komentar

Pernah nggak sih berpikir, kalau dunia itu bisa berputar 180 derajat secara tiba-tiba, bahkan 360 derajat tanpa diduga. Sampai-sampai, ada suatu masa ketika tersenyum adalah kebiasaan, tiba-tiba berubah menjadi langka, tiba-tiba tergantikan oleh muram. 

Ada masanya, ketika mata selalu berbinar, tiba-tiba berubah menjadi nanar. 

Ada masanya, ketika hidup adalah menjadi sesuatu yang disyukuri, tiba-tiba berubah menjadi termaki-maki. 

Ada masanya, ketika hidup berubah langsung seketika hanya karena setitik nila—yang tak jelas jatuhnya dari mana, jatuhnya karena apa?

Ada masanya, ketika setiap pertanyaan memiliki jawaban yang datang dengan sendirinya, tiba-tiba berubah menjadi pertanyaan yang harus di cari sendiri jawabannya hingga berbulan-bulan lamanya.

dan ada masanya, ketika semua bisa dengan mudah didapatkan, tiba-tiba berubah menjadi mudah kehilangan.

Pernah nggak sih berpikir, kalau grafik yang awalnya selalu statis, tiba-tiba menjadi naik, atau bisa jadi turun drastis.

Tapi pernah nggak sih berpikir, kalau semuanya hanya sementara dan bisa kembali seperti keadaan awalnya, atau bahkan menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya?

With Love, Tara.
November 05, 2020 No komentar

Berada di rumah dalam rentang waktu yang lama sering bikin bosan. Apalagi, seluruh aktivitas seolah-olah terintegrasi hanya dalam satu tempat, atau bahkan hanya dalam satu ruang saja. Mungkin sebagian orang lelah dan ingin cepat keluar. Namun pasti ada juga orang-orang yang menikmati dan waktu pandemi ini sebaik mungkin, termasuk aku. 

Kemarin aku mengikuti suatu webinar dari BEM fakultasku tentang kesehatan mental saat pandemi. Dalam webinar itu sempat menyinggung soal kepribadian extrovert adalah kepribadian yang cukup dirugikan karena merasa nggak nyaman berada dalam keadaan sepi pada waktu yang lama. Aku nggak tau tepatnya aku memliki kepribadian seperti apa, bisa jadi introvert, bisa jadi ambievert. Tapi yang jelas aku merasa bisa menikmati kondisi #dirumahaja seperti saat ini. Bagiku, tahun 2020 ini menjadi tahun baru yang bisa membuatku menemukan hal-hal berharga yang sebelumnya belum aku ketahui. 

Mengenal diri lebih dalam
Salah satu hal paling berharga yang kutemui saat masa pandemi adalah aku bisa belajar untuk mengenal diriku lebih dalam. Berawal dari mengingat kenangan-kenangan masa lalu sebelum pandemi yang sering buat kesal hingga menyalahkan diri sendiri. Atau ketika mengingat kegagalan-kegagalan yang pernah kuperbuat sampai bikin stres dan capek sendiri. Fase-fase itu kelihatannya sangat rumit di memori, tapi semakin lama memiliki waktu untuk merenungkannya, semakin baik juga kesempatan kita untuk refleksi dan memperbaiki. Aku berlajar sepakat dengan pernyataan bahwa 'kita nggak perlu malu dan benci dengan masa lalu kita karena bagaimanapun masa-masa itu menjadi bagian dari hidup kita'. Bahkan mungkin karena kita mampu melewati masa-masa sulit itu, kita jadi bisa menjadi seperti sekarang yang yakin nggak bakal jatuh dalam kesalahan yang sama seperti masa lalu. Atau lebih baiknya lagi, kesalahan dan kegagalan yang pernah terjadi dimasa lalu bisa menjadi hikmah dan pembelajaran bagi orang-orang sekitar kita yang termasuk didalamnya maupun yang sekedar tau. 

Selain itu, aku juga bisa mulai mengerti minatku dan menyusun timeline hidupku kedepannya. Dalam artian lain, aku jadi tau punya tujuan hidup. Mungkin hal itu terjadi karena ketika di rumah, aku hanya dihadapkan untuk fokus pada diriku, keluarga, kuliah dan organisasi. Sedangkan ketika hidup normal di luar, aku dihadapkan dengan bermacam-macam hal seperti bentuk akibat dari interaksi dengan orang banyak secara langsung dan aktivitas yang banyak membutuhkan energi sehingga hanya punya sedikit punya waktu untuk istirahat. Aku sadar bahwa saat itu aku belum memiliki manajemen waktu dan emosi yang baik sampai sering bikin kesal dan capek sendiri. Mungkin melalui pandemi ini, Allah memberiku kesempatan untuk beristirahat atas seluruh kegundahan hidupku sebelumnya. Dan...mungkin saat pandemi inilah aku bisa belajar mengatur diriku dalam hal waktu & emosi serta yang terpenting bisa mempersiapkan segala sesuatu dengan baik untuk menyambut kehidupan normal kembali. 

Lebih dekat dengan keluarga
Sebagai pelajar yang sudah merantau dari 8 tahun yang lalu, memiliki kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga menjadi sangat berharga. Kalau selama 8 tahun kebelakang ketemu keluarga hanya saat liburan semester dengan durasi sekitar 2 minggu sampai 1 bulan, kali ini tinggal dengan keluarga sudah lebih dari setengah tahun. Sebenarnya butuh adaptasi juga si karena sebelumnya sudah terbiasa tinggal sendirian, kali ini harus belajar buat hidup berdampingan. But, aku sangat bersyukur. Aku bahagia bisa menjalani kehidupan sehari-hariku dengan bertemu dan berbincang dengan keluargaku. Hua! Aku berharap bisa selalu bersama keluargaku, tapi aku juga berharap pandemi ini cepat selesai. Just hope for the best. 

Lebih mengenal teman-teman
Ini berlaku dari aku ke beberapa teman-temanku yang sebelumnya nggak begitu akrab. Kalau dulu saat kehidupan normal seringnya main sama teman-teman yang cuma akrab di circle masing-masing, kali ini aku ngerasa lebih akrab sama beberapa teman yang dulunya jauh. Mungkin kalau di kehidupan langsung ada rasa sungkan buat nge-akrabin diri, tapi disaat pandemi ini karena sering diskusi soal pelajaran jadi sering berhubungan dan kadang-kadang suka cerita tentang diri masing-masing. Sederhana, tapi aku ngerasa hal ini adalah satu manfaat yang aku dapat dari pembelajaran online karena pandemi. Aku berharap seterusnya bisa akrab dengan teman-teman dekatku saat pandemi ini. 

Kesempatan berkarya
Kalau nge-follow akun instagram info lomba-lomba pastinya nggak asing dengan update poster lomba setiap harinya. Sampai-sampai kalau mau ikut lomba suka bingung mau ikut yang mana. Menurutku masa pandemi ini ikut kompoteisi cocok banget buat siswa dan mahasiswa yang bingung mau ngapain tapi ingin produktif. Sebab dengan kondisi daring seperti ini, banyak lomba-lomba yang diadakan dengan biaya registrasi murah. Pun kalau diterima sebagai finalis, nggak perlu bayar pesawat mahal-mahal buat datang ke universitas yang mengadakan lomba tersebut karena saat ini presentasi finalis diadakan melalui platform meeting online. Selain itu, mengikuti kompetisi online juga bisa membuat kita terdorong untuk nggak rebahan dan main handphone aja di rumah. Ada deadline yang harus diperhatikan, ada tugas menyelesaikan karya untuk dikumpulkan. Mengikuti kompetisi nggak melulu soal ambisi untuk mendapatkan rewards. Sebab dengan mengikuti kompetisi kita bisa menambah pengetahuan dengan membaca berita, buku dan jurnal-jurnal serta hal serupa lain yang bisa kita dapat kalau mengikuti kompetisi kesenian. Namun, lomba bukan satu-satunya wadah untuk berkarya karena ada banyak banget jalan untuk berkarya selain itu. Jadi yang terpenting, walau pandemi seperti ini kita nggak boleh males-malesan dan harus tetap mengambil kesempatan untuk melakukan sesuatu bermanfaat. 

Karena nggak tau kapan pandemi ini akan berakhir, kita hanya perlu memanfaatkan masa pandemi ini untuk terus jadi bermanfaat. Kalau belum saatnya bermanfaat bagi orang lain, kita harus bisa minimal menjadi manfaat bagi diri kita sendiri. Sesederhana.. mengisi waktu dengan hal-hal positif. Sehingga nantinya ketika beberapa waktu ke depan ingin mengenang diri kita saat pandemi, kita memliki jejak-jejak positif yang disalurkan melalui jalan masing-masing. Semangat semuanya!

With Love, Tara.
Oktober 25, 2020 No komentar
Newer Posts
Older Posts

About

Hi, welcome to my diary :)

Label

  • Academic
  • Personal
  • Puisi
  • Random
  • Review
  • Travelling

Popular Post

  • WHAT'S IN MY CAMPUS BAG? (ENGINEERING STUDENT)
  • THERE WILL ALWAYS BE A ‘BEGIN AGAIN’
  • SHORT TRIP IN BANDUNG, FINALLY KE KOTA IMPIAN MASA KECIL
  • PUISI: ALKISAH SEKOTAK RANTANG
  • ANOTHER DAY IN BANDUNG: KULINER & WISATA SEJARAH
  • PUISI: GALAKSI DALAM POTRETMU
  • 23, SELAMAT ULANG TAHUN!
  • HAL POSITIF DARI PANDEMI COVID-19
  • DI SUATU MINGGU SORE
  • THINGS I LEARNED AFTER 2+ YEARS GRADUATION

Archive

  • ▼  2026 (4)
    • ▼  April (2)
      • PUISI: GALAKSI DALAM POTRETMU
      • PUISI: ALKISAH SEKOTAK RANTANG
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2024 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2023 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2022 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (13)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (30)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (9)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (3)

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *

Follow Us

Community



FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates