gmail Linkedin twitter instagram
  • Home
  • About
  • Contact

nabilatara

a little piece of my lovely journey♡

Lima hari yang lalu aku menggunakan jasa Kereta Api Indonesia untuk berpergian dari Malang menuju Kota Surakarta. Sebelumnya sudah beberapa kali berpergian menggunakan KAI, namun cukup bisa dihitung jari. Nah pada perjalanan ini aku tertarik menggunakan layanan KAI kembali untuk kelas eksekutif. 


Cara memesan tiket melalui aplikasi KAI Access
1. Pada halaman awal aplikasi dapat segera menulis stasiun kota asal dan stasiun tujuan, kemudian mengisi tanggal keberangkatan dan tanggal pulang (untuk pemesanan tiket pulang-pergi). Setelah itu, pilih kategori kelas kereta untuk memudahkan pencarian tiket, kemudian isi jumlah dan kategori penumpang. 
2. Setelah klik cari, pilih tiket yang sesuai. 
3. Isi data penumpang.
4. Pilih kursi yang sesuai. 
5. Proses pembayaran. 
6. Setelah proses pembayaran selesai, tiket yang sudah dibeli bisa di akses di menu tiket.
7. Unduh e-ticket pada 2 jam sebelum jadwal keberangkatan. 

Syarat-syarat melakukan perjalanan menggunakan KAI 2021
1. KTP
2. Tiket (boleh berupa e-ticket)
3. Surat Rapid Test Antigen (untuk area Pulau Jawa)
4. Masker

Sebenarnya selain membawa 4 persyaratan itu, aku juga membawa face shield. Tapi ternyata, aku mendapat face shield gratis yang disediakan oleh KAI.

Setelah melakukan pembelian tiket dan mempersiapkan persyaratan-persyaratannya, saat check-in tiket di Stasiun Kepanjen Malang aku diminta untuk menunjukkan dokumen-dokumen persyaratan dan terdapat pemeriksaan suhu tubuhku. Kemudian, aku menunggu kereta datang di waiting room sekitar 10 menit hingga KAI Malabar datang. Bagi pengguna yang jarang perjalanan menggunakan kereta api, aku masih belum begitu hafal letak gerbong-gerbongnya. Tapi nggak jadi masalah sih karena setelah check-in saya diarahkan oleh petugas menuju gerbong eksekutif. 

Setelah menemukan seat, aku berniat meletakkan barang bawaan di bagasi atas. Tapi karena sangat berat, barang-barangnya aku taruh di kursi samping karena kebetulan setelah bertanya pada pramugara kereta aku diinformasikan kalau tidak ada penumpang di kursi sebelah hingga Stasiun Solo Balapan.  Oh yaaa, ini kaadaan di gerbong eksekutif.



Kursinya nyaman dan ada tempat untuk pijakan kaki. Selain itu jarak antara kursi dengan kursi depannya agak jauh dan nggak hadap-hadapan seperti di kelas ekonomi. Menurutku kalau untuk perjalanan jauh lebih baik menggunakan layanan eksekutif karena selain nyaman, ingin melakukan apapun jadi nggak sungkan ke penumpang lain seperti penumpang yang berhadapan dengan kita di kelas ekonomi. Kadang kalau perjalanan jauh apalagi sampai lebih dari 5 jam suka pingin ngelakuin hal lain selain duduk seperti makan, tidur, lihat film di laptop, streaming YouTube dan hal lainnya dan bakal sungkan atau gak nyaman kalau penumpang dihadapan kita ngeliatin gerak gerik kita. Selain itu, kadang bisa ngga nyaman di kelas ekonomi juga kalau perjalanan jauh karena satu seat bisa muat 3 orang dan nggak ada pembatasnya, jadi nggak bisa bebas kalau mau gerak. 

By the way, setelah dua jam perjalanan lumayan haus juga, terlebih lupa nggak bawa minuman dari rumah. Kalau diingat-ingat dari perjalanan sebelumnya yang menggunakan KAI, beberapa kali ada petugas yang keliling menjual konsumsi. Karena saat itu nggak ada petugas yang lewat dan saya males gerak untuk mencari food centre-nya, aku memilih untuk memesan minuman melalui WhatsApp. Nah ternyata, penyediaan dan pelayanan konsumsi di KAI diwadahi oleh PT Reska Multi Usaha (PT. RMU).

Cara memesan makanan di kereta api melalui layanan pesan WhatsApp
1. Hubungi nomor 08111755121 sebagai nomor pusat pemesanan makanan dengan format Kode Booking Tiket KA/Menu/Jumlah. Contoh: LVI4TOQ/Chappuccino/1.
2. Setelah mendapat balasan dan pemesan sudah konfirmasi pemesanan yang sesuai, petugas KAI akan datang membawa pesanan ke tempat kita.


Menurutku service memesan makanan seperti ini lebih fleksibel dan mudah, apalagi di masa pandemi seperti ini yang mana harus membatasi kontak dengan orang lain. Selain itu, nggak perlu nunggu lama menunggu pesananannya datang. Saat itu, setelah konfirmasi pesanan dan menunggu sekitar 20 menit, crew datang dan membawa pesananku dengan ramah. Oh yaaa kebetulan kemarin aku sempat mengabadikan kontak PT. RMU di berbagai platform yang tertera di kemasan chappuccino.


Buat temen-temen yang ingin berpergian jauh menggunakan jasa KAI, tetap mematuhi protokol kesehatan yaaa dan jangan lupa bawa persyaratan-persyaratan yang sudah ditentukan!

With Love, Tara.
Januari 15, 2021 No komentar

Akhir-akhir ini pembicaraan soal budaya patriarki cukup menarik dan sering muncul di media sosial. Awalnya nggak ngerasa begitu terkena oleh dampaknya,  tapi kalau dipikir-pikir ternyata selama ini cukup terdampak. Mungkin karena hal tersebut sudah menjadi sesuatu yang seolah-olah normal di lingkunganku dan kebetulan belum ada yang pernah speak-up, jadi aku kurang menyadarinya. 

Banyaknya gerakan feminisme membuatku sadar, kalau banyak perempuan-perempuan diluar sana yang ingin memperjuangkan hak mereka untuk memiliki kesetaraan dengan laki-laki. Aku rasa gerakan berbau feminisme itu nggak ada tanpa penyebab. Tapi setelah aku cari dan mendengarkan suara-suara perempuan dari berbagai platform seperti maraknya kekerasan, kesenjangan kedudukan dalam dunia kerja, intimidasi terhadap perempuan—aku setuju dengan kesetaraan gender yang seharusnya diperjuangkan. 

Tentang perbedaan gender
Bukan sesuatu yang asing terdengar kalau di lingkungan kita perempuan seolah-olah memiliki kedudukan di bawah laki-laki. Nggak tau pasti penyebabnya apa, tapi aku sering dengar kalau perempuan adalah kaum yang lebih lemah dari laki-laki. Kalau yang aku tangkap, lemah dalam artian ini adalah lemah secara fisik dan lemah secara mental. Padahal, belum tentu begitu benarnya. Stigma-stigma itu muncul karena sudah terlalu melekat di pikiran masyarakat.

Aku masih ingat kalau setahun lalu saat pemilihan ketua di suatu komunitas, orang-orang terdekatku bilang kalau calon-calonnya hanya bisa diperankan oleh anggota laki-laki saja. Saat aku tanya penyebabnya, beberapa dari mereka mengatakan kalau perempuan terlalu memakai perasaan dalam hal apapun, sehingga dikhawatirkan tidak cukup kuat memimpin suatu program kerja yang dirasa cukup berat dan menantang. Pikiran-pikiran yang belum tentu mutlak benar tersebut bisa berpengaruh besar terhadap suatu hal seperti dalam memilih pemimpin. Padahal dalam dunia profesional, baik perempuan atau laki-laki seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi leader. Kemampuan memimpin seharusnya dipertimbangkan dari kapabilitas seseorang, namun mengapa masih sering dikaitkan dengan perbedaan gender?

Hal yang cukup mengganggu lainnya ketika masyarakat secara tidak langsung membatasi perempuan untuk mengenyam pendidikan tinggi dengan alasan takut tidak 'laku' atau tidak ada yang ingin menikahi. Pun juga sering menjadi bahasan diskusi tentang bagaimana perempuan mengambil peran ketika sudah menikah atau berkeluarga. Laki-laki sebagai kepala keluarga berhak melakukan apapun yang diinginkan, sedangkan perempuan memiliki batasan-batasan untuk menjalani hidupnya. Namun buruknya, budaya itu bisa membuat laki-laki menjadi seenaknya mengatur-ngatur istrinya tanpa memenuhi hak-haknya, atau bahkan bisa jadi menyakiti istrinya karena merasa diri sendiri paling berkuasa. Dalam kehidupan masyarakat, perempuan yang seolah-olah ditakdirkan memiliki banyak batasan serta laki-laki yang ditakdirkan memiliki kebebasan itu real & masih eksis hingga saat ini. 

Mungkin sering terdengar juga kalau perempuan hidup untuk menikah dengan laki-laki. Seolah-olah, tujuan hidup perempuan adalah untuk menikah dan menjadi istri. Padahal, tujuan setiap orang hidup di dunia ini adalah untuk menjadi bermanfaat. Pun ketika perempuan memutuskan untuk menikah dan berkeluarga, tujuan hidupnya adalah tetap untuk menjadi bermanfaat. Baik bermanfaat untuk keluarganya, untuk lingkungannya, atau untuk dirinya sendiri. Nggak seharusnya mengutamakan pernikahan sebagai tujuan hidup perempuan. Kalau orang-orang sekitar banyak yang bilang perempuan harus segera menikah sebelum umur sekian sesuai standart masyarakat, aku kira itu salah dan nggak seharusnya seseorang mengatur pilihan hidup orang lain untuk bagaimana dan menjadi apa. Sebab, selama pilihan hidup seseorang tidak merugikan orang lain, apa yang perlu dipermasalahkan?

Keep being positive!

With Love, Tara.

Desember 12, 2020 No komentar
Beberapa hari terakhir cukup sibuk dengan kegiatan kampus dan kegiatan lain, sampai-sampai ingin banget keluar walau cuma sekedar ke pantai dekat rumah. Senin lalu setelah kelas aku langsung ke pantai, padahal terik lagi kuat-kuatnya karena masih jam 2 siang. 

Awalnya cuma ingin menikmati es kelapa muda aja sambil duduk-duduk santai. Tapi nggak tau kenapa kemarin pingin ngelilingin pantai sambil dikit-dikit hunting foto. Setelah rasanya udah lama banget folder kamera di handphone nggak keisi karena cuma dirumah aja, dalam sehari bisa langsung nambah puluhan foto waktu di pantai. Mulai dari foto selfie, foto ombak, foto deretan sampan yang lagi nggek berlayar dan foto-foto random lain yang membawaku sampai penasaran dengan area deretan rumput laut.


Nggak langsung ketemu sama area ini, karena awalnya aku bertemu dengan anak perempuan kecil yang lagi ngambil sesuatu di muara ombak. Aku mengira kalau dia lagi ngumpulin kerang, tapi setelah aku deketin ternyata itu rumput laut. Semakin aku deketin semakin banyak banyak rumput laut, bahkan hampir semua area itu ketutup sama rumput laut. Sebelumya aku sudah ke Pantai Labuhan Haji beberapa kali, tapi baru pertama kali notice tentang area rumput laut. Dan.. di Malang ataupun di Yogyakarta aku belum pernah nemu pantai yang dipenuhi rumput laut seperti ini. 


Kalau aku amati kemarin, di area rumput laut ini nggak seluruhnya bersih karena ada satu dua sampah yang nyangkut. Memang, di beberapa wilayah Pantai Labuhan Haji masih ada banyak sampah dari pengunjung yang nggak bertanggung jawab. Sudah bertahun-tahun yang lalu sejak aku SD hingga sekarang masih seperti itu, tapi bersyukur juga sih karena sebaran sampah semakin berkurang setiap tahunnya. 

Sempat lama mengamati rumput laut, uniknya mereka warna warni ya. Hijau tua, hijau muda, kuning. cokelat dan merah muda juga ada. Aku jadi ingat kalau suka beli dodol rumput laut buat oleh-oleh dari Mataram. Variasi warnanya persis dengan rumput laut asli disini. Bahkan, aku sempat berpikir kalau ingin mengambil seluruh rumput laut disini untukku olah menjadi sesuatu. 

By the way setelah cukup lama mengamati dan hari semakin sore, aku bertemu dengan dua orang ibu-ibu yang membawa kantong plastik. Berbeda dengan anak perempuan kecil tadi yang kayaknya cuma iseng-iseng ngambil rumput laut, kali ini dua orang ibu-ibu terlihat akan membawa rumput laut itu pulang ke rumah. Berhubungan dengan pikiranku sebelumnya tentang olahan rumput laut dan melihat dua orang ibu-ibu itu, aku semakin penasaran dan mendekati mereka. 

Mereka nggak sembarang ambil rumput laut, jadi memang sengaja dipilih. Kata salah satu ibu-ibu yang aku tanya, mereka mengambil rumput laut bukan untuk dijual, tapi untuk di olah menjadi beberuk. Fyi, beberuk adalah salah satu masakan khas Lombok yang terbuat dari lalapan kangkung, kacang panjang dan sambal tomat yang pedas. Tapi nggak selalu lalapan kangkung, bisa juga beberuk terbuat dari lalapan terong atau rumput laut seperti yang akan dimasak oleh ibu-ibu yang kutemui. Sayangnya, sebelum ini aku cuma pernah ketemu dengan beberuk kangkung aja. Next time kayanya aku tertarik buat nyoba beberuk rumput laut.

Finally, aku cuma mau bilang kalau kita harus tetap bertahan untuk nggak bosan karena pandemi ini. Sesekali mungkin perlu untuk keluar rumah biar nggak jenuh, asalkan nggak ke tempat keramaian yaaa. Stay safe everyone!

With Love, Tara.
November 23, 2020 No komentar

Aku yakin kalau setiap orang memiliki sesuatu yang pernah disesalkan, ntah karena kesalahan yang telah dilakukan dengan sengaja, atau.. karena kesalahan yang disebabkan ketidaksengajaan. Padahal, segala hal buruk yang pernah terjadi di masa lalu adalah bagian dari cara Allah untuk memberikan pesan-pesan kehidupan pada setiap manusia. 

Belajar dan berproses
Pernah berada dalam posisi terburuk dalam hidup karena telah melakukan kesalahan yang dirasa nggak normal jika dilakukan orang lain pada posisi yang sama. Bukan, bukan karena diri benar-benar jatuh. Tapi karena awalnya ngerasa semua adalah bagian dari kecerobohan, tapi semakin rumit dipikiran, semakin muncul hal-hal lain yang membuat otak melebih-lebihkan. And.. the only one it's about 'people minds'. Aku pernah mendengar kata-kata seorang teman kuliahku yang hingga sekarang masih ku ingat, 'Jangan mudah menghakimi orang lain, belum tentu jika kita berada di posisi-nya, kita bisa menghadapi kejadian itu lebih baik dari cara-nya'. I'm totally agree with that statement. Sekali lagi, belum tentu orang-orang yang pernah menghakimi kita bisa lebih survive dari kita ketika ia berada di posisi yang sama dan mengalami kejadian sama. Tapi, sejauh ini kalimat itu lebih cocok menjadi penenang diri ketika memikirkan hal yang nggak-nggak dari omongan dan pikiran orang lain. 

Well, ketika dulu saat belum paham, aku pernah menghakimi orang lain walau dengan cara yang tidak langsung. Aku merasa dia salah menurut pendapat pribadiku, dan itu yang membuatku menyalahkan dia. Dan, aku nggak kebayang kalau dia bakal se-kecewa itu. Mungkin itu salah satu penyebab pertemananku dan dia renggang hingga saat ini, walau saat itu sudah diselesaikan baik-baik.  Sebenarnya niatnya baik, tapi cara penyampain dariku yang salah. Aku menyesal atas kejadian itu, seharusnya aku bisa paham perihal ini lebih cepat. Tapi sejak saat itu juga, aku berusaha untuk belajar menyampaikan pesan dengan cara yang baik kepada orang-orang sekitar. Lagi-lagi, semuanya adalah soal belajar.

Sebenarnya, kejadian buruk hanya berkutat dengan kata 'proses' dan 'perbedaan'. Setiap orang memiliki jalan yang berbeda untuk berproses dalam hidupnya. Itulah kenapa kita nggak bisa menjustifikasi seseorang bahwa ia salah menurut versi kita. Kalau dia bukan orang dekat, kita nggak tau batas kemampuannya seperti apa, fokus kehidupannya adalah tentang apa dan kondisinya bagaimana ketika sedang melakukan suatu kesalahan. Setiap orang memang bebas berpendapat. Tapi, akan lebih baik kalau pendapat tentang apapun itu dilontarkan setelah ia paham betul tentang kondisi dan penyebab dari seseorang yang akan dihakimi. 

Tentang memaafkan
Suatu hal yang disesalkan di masa lalu bisa saja timbul karena kesalahan diri sendiri atau disebabkan karena orang lain. Satu hal yang masih menjadi keresahan hingga sekarang adalah mengapa begitu sulit memaafkan orang yang sudah membuat kenangan buruk dalam memori. Aku sendiri belum tau jawabannya. Bahkan, kadang sempat berpikir kalau manusia hanya butuh orang lain untuk dibenci karena kita butuh pembelaan kalau kita benar, menurut versi kita sendiri. Padahal itu salah, sebab otak tau tentang 'kebenaran' siapa yang salah dan siapa yang sedang disalahkan—hanya karena diri sendiri butuh pembelaan. Dalam pengalamanku yang pernah melakukan kesalahan tapi malu karena sempat dihakimi orang lain dengan cara yang tidak sesuai dengan keinginanku, pada keberjalanannya dalam hati aku malah sempat menyalahkan orang lain itu. Mungkin dalam hal ini, seharusnya aku memaafkan seseorang karena kesalahan yang sebenarnya, yaitu menyampaikan kritik dengan cara yang salah. Bukan karena kesalahan seseorang karena pandangan yang dibuat-buat sendiri. 

Seharusnya, ada baiknya kalau kita menghadapi kesalahan di masa lalu hanya melihat sisa baiknya saja agar tidak belarut-larut terlalu lama. Setelah berhasil mengambil sisi baiknya, kita perlu 'beraksi' untuk memperbaiki kesalahan sebelumnya. Entah pada akhirnya akan berhasil diperbaiki atau tidak, yang penting sudah berusaha sepenuhnya. Mungkin Allah ngin melihat manusia berjuang dengan cara demikian. Semestinya, sesederhana itu yang muncul dipikiran manusia. Sehingga, nggak ada orang lain yang disalahkan dan dibenci, nggak ada pikiran yang dilebih-lebihkan dan menjadi toxic di pikiran sendiri. 

Kalau sudah berhasil memaafkan orang lain yang telah menjadi bagian dari memori buruk kita, selanjutnya adalah berdamai dengan memaafkan diri sendiri. Memang, butuh usaha dan waktu yang lama. Tapi harus terus diusahakan, harus terus dicoba perlahan. Kalau belum bisa berdamai dengan diri sendiri, bagaimana cara kita melihat sisi positif yang lain dari diri kita? Setiap orang bisa saja membuat kesalahan, setiap orang bisa saja gagal, tapi setiap orang juga pasti punya hal positif lain yang perlu disyukuri kan? Dan.. orang terdekat yang bisa menghargai dan mengapresiasi hal positif pada diri kita adalah diri kita sendiri. Kalau orang lain melihat diri kita lebih unggul atas kesalahan dan kelemahan, maka kita nggak boleh melihat hal yang sama seperti padangan orang lain. That's the importans of make peace with our self. 

Masa lalu adalah milik kita, baik atau buruk sudah semestinya disyukuri. Masa depan adalah milik kita, akan menjadi baik atau buruk sudah seharusnya diperjuangkan. Nggak ada yang perlu disesalkan dari masa lalu dan nggak ada yang perlu dikhawatirkan tentang masa depan kalau kita janji akan selalu berusaha menjadi lebih baik. Keep spread love to our self and others!

With Love, Tara.
November 11, 2020 No komentar

Pernah nggak sih berpikir, kalau dunia itu bisa berputar 180 derajat secara tiba-tiba, bahkan 360 derajat tanpa diduga. Sampai-sampai, ada suatu masa ketika tersenyum adalah kebiasaan, tiba-tiba berubah menjadi langka, tiba-tiba tergantikan oleh muram. 

Ada masanya, ketika mata selalu berbinar, tiba-tiba berubah menjadi nanar. 

Ada masanya, ketika hidup adalah menjadi sesuatu yang disyukuri, tiba-tiba berubah menjadi termaki-maki. 

Ada masanya, ketika hidup berubah langsung seketika hanya karena setitik nila—yang tak jelas jatuhnya dari mana, jatuhnya karena apa?

Ada masanya, ketika setiap pertanyaan memiliki jawaban yang datang dengan sendirinya, tiba-tiba berubah menjadi pertanyaan yang harus di cari sendiri jawabannya hingga berbulan-bulan lamanya.

dan ada masanya, ketika semua bisa dengan mudah didapatkan, tiba-tiba berubah menjadi mudah kehilangan.

Pernah nggak sih berpikir, kalau grafik yang awalnya selalu statis, tiba-tiba menjadi naik, atau bisa jadi turun drastis.

Tapi pernah nggak sih berpikir, kalau semuanya hanya sementara dan bisa kembali seperti keadaan awalnya, atau bahkan menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya?

With Love, Tara.
November 05, 2020 No komentar

Berada di rumah dalam rentang waktu yang lama sering bikin bosan. Apalagi, seluruh aktivitas seolah-olah terintegrasi hanya dalam satu tempat, atau bahkan hanya dalam satu ruang saja. Mungkin sebagian orang lelah dan ingin cepat keluar. Namun pasti ada juga orang-orang yang menikmati dan waktu pandemi ini sebaik mungkin, termasuk aku. 

Kemarin aku mengikuti suatu webinar dari BEM fakultasku tentang kesehatan mental saat pandemi. Dalam webinar itu sempat menyinggung soal kepribadian extrovert adalah kepribadian yang cukup dirugikan karena merasa nggak nyaman berada dalam keadaan sepi pada waktu yang lama. Aku nggak tau tepatnya aku memliki kepribadian seperti apa, bisa jadi introvert, bisa jadi ambievert. Tapi yang jelas aku merasa bisa menikmati kondisi #dirumahaja seperti saat ini. Bagiku, tahun 2020 ini menjadi tahun baru yang bisa membuatku menemukan hal-hal berharga yang sebelumnya belum aku ketahui. 

Mengenal diri lebih dalam
Salah satu hal paling berharga yang kutemui saat masa pandemi adalah aku bisa belajar untuk mengenal diriku lebih dalam. Berawal dari mengingat kenangan-kenangan masa lalu sebelum pandemi yang sering buat kesal hingga menyalahkan diri sendiri. Atau ketika mengingat kegagalan-kegagalan yang pernah kuperbuat sampai bikin stres dan capek sendiri. Fase-fase itu kelihatannya sangat rumit di memori, tapi semakin lama memiliki waktu untuk merenungkannya, semakin baik juga kesempatan kita untuk refleksi dan memperbaiki. Aku berlajar sepakat dengan pernyataan bahwa 'kita nggak perlu malu dan benci dengan masa lalu kita karena bagaimanapun masa-masa itu menjadi bagian dari hidup kita'. Bahkan mungkin karena kita mampu melewati masa-masa sulit itu, kita jadi bisa menjadi seperti sekarang yang yakin nggak bakal jatuh dalam kesalahan yang sama seperti masa lalu. Atau lebih baiknya lagi, kesalahan dan kegagalan yang pernah terjadi dimasa lalu bisa menjadi hikmah dan pembelajaran bagi orang-orang sekitar kita yang termasuk didalamnya maupun yang sekedar tau. 

Selain itu, aku juga bisa mulai mengerti minatku dan menyusun timeline hidupku kedepannya. Dalam artian lain, aku jadi tau punya tujuan hidup. Mungkin hal itu terjadi karena ketika di rumah, aku hanya dihadapkan untuk fokus pada diriku, keluarga, kuliah dan organisasi. Sedangkan ketika hidup normal di luar, aku dihadapkan dengan bermacam-macam hal seperti bentuk akibat dari interaksi dengan orang banyak secara langsung dan aktivitas yang banyak membutuhkan energi sehingga hanya punya sedikit punya waktu untuk istirahat. Aku sadar bahwa saat itu aku belum memiliki manajemen waktu dan emosi yang baik sampai sering bikin kesal dan capek sendiri. Mungkin melalui pandemi ini, Allah memberiku kesempatan untuk beristirahat atas seluruh kegundahan hidupku sebelumnya. Dan...mungkin saat pandemi inilah aku bisa belajar mengatur diriku dalam hal waktu & emosi serta yang terpenting bisa mempersiapkan segala sesuatu dengan baik untuk menyambut kehidupan normal kembali. 

Lebih dekat dengan keluarga
Sebagai pelajar yang sudah merantau dari 8 tahun yang lalu, memiliki kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga menjadi sangat berharga. Kalau selama 8 tahun kebelakang ketemu keluarga hanya saat liburan semester dengan durasi sekitar 2 minggu sampai 1 bulan, kali ini tinggal dengan keluarga sudah lebih dari setengah tahun. Sebenarnya butuh adaptasi juga si karena sebelumnya sudah terbiasa tinggal sendirian, kali ini harus belajar buat hidup berdampingan. But, aku sangat bersyukur. Aku bahagia bisa menjalani kehidupan sehari-hariku dengan bertemu dan berbincang dengan keluargaku. Hua! Aku berharap bisa selalu bersama keluargaku, tapi aku juga berharap pandemi ini cepat selesai. Just hope for the best. 

Lebih mengenal teman-teman
Ini berlaku dari aku ke beberapa teman-temanku yang sebelumnya nggak begitu akrab. Kalau dulu saat kehidupan normal seringnya main sama teman-teman yang cuma akrab di circle masing-masing, kali ini aku ngerasa lebih akrab sama beberapa teman yang dulunya jauh. Mungkin kalau di kehidupan langsung ada rasa sungkan buat nge-akrabin diri, tapi disaat pandemi ini karena sering diskusi soal pelajaran jadi sering berhubungan dan kadang-kadang suka cerita tentang diri masing-masing. Sederhana, tapi aku ngerasa hal ini adalah satu manfaat yang aku dapat dari pembelajaran online karena pandemi. Aku berharap seterusnya bisa akrab dengan teman-teman dekatku saat pandemi ini. 

Kesempatan berkarya
Kalau nge-follow akun instagram info lomba-lomba pastinya nggak asing dengan update poster lomba setiap harinya. Sampai-sampai kalau mau ikut lomba suka bingung mau ikut yang mana. Menurutku masa pandemi ini ikut kompoteisi cocok banget buat siswa dan mahasiswa yang bingung mau ngapain tapi ingin produktif. Sebab dengan kondisi daring seperti ini, banyak lomba-lomba yang diadakan dengan biaya registrasi murah. Pun kalau diterima sebagai finalis, nggak perlu bayar pesawat mahal-mahal buat datang ke universitas yang mengadakan lomba tersebut karena saat ini presentasi finalis diadakan melalui platform meeting online. Selain itu, mengikuti kompetisi online juga bisa membuat kita terdorong untuk nggak rebahan dan main handphone aja di rumah. Ada deadline yang harus diperhatikan, ada tugas menyelesaikan karya untuk dikumpulkan. Mengikuti kompetisi nggak melulu soal ambisi untuk mendapatkan rewards. Sebab dengan mengikuti kompetisi kita bisa menambah pengetahuan dengan membaca berita, buku dan jurnal-jurnal serta hal serupa lain yang bisa kita dapat kalau mengikuti kompetisi kesenian. Namun, lomba bukan satu-satunya wadah untuk berkarya karena ada banyak banget jalan untuk berkarya selain itu. Jadi yang terpenting, walau pandemi seperti ini kita nggak boleh males-malesan dan harus tetap mengambil kesempatan untuk melakukan sesuatu bermanfaat. 

Karena nggak tau kapan pandemi ini akan berakhir, kita hanya perlu memanfaatkan masa pandemi ini untuk terus jadi bermanfaat. Kalau belum saatnya bermanfaat bagi orang lain, kita harus bisa minimal menjadi manfaat bagi diri kita sendiri. Sesederhana.. mengisi waktu dengan hal-hal positif. Sehingga nantinya ketika beberapa waktu ke depan ingin mengenang diri kita saat pandemi, kita memliki jejak-jejak positif yang disalurkan melalui jalan masing-masing. Semangat semuanya!

With Love, Tara.
Oktober 25, 2020 No komentar

Pernah nggak sih berpikir untuk berhenti usaha mencapai mimpi yang sudah disusun dengan matang? Mungkin karena lelah berusaha, atau.. lelah untuk survive di lingkungan yang nggak support dengan mimpi-mimpi yang dimiliki. Sebagai mahasiswa, sering dan bahkan dalam setiap harinya berhubungan dengan kedua hal itu. Bisa jadi soal ambisi dan mimpi pribadi, bisa jadi soal ambisi dan mimpi dari orang-orang sekitar yang terlihat di depan mata. 

Bolehkah memiliki ambisi?
Tanpa dijawab pun, semua orang pasti punya dan pernah berambisi. Nyatanya, ambisi adalah faktor terkuat yang membuat manusia bisa tekun berjuang untuk mencapai mimpi-mimpinya. Aku yakin orang-orang yang terlihat nggak punya jiwa-jiwa ambis atau hidupnya tampak mengalir aja pasti tetap punya ambisi yang mungkin disembunyikan. Entah sengaja, atau memang ingin terlihat hidup apa adanya. 

Takut berambisi
Menghadapi suatu kegagalan adalah hal yang memang berat. Kadang merasa sudah berusaha dengan maskimal, tapi hasil nggak sesuai yang diharapkan. Kemudian.. memustukan untuk berhenti berambisi. Memutuskan untuk mengalir aja tanpa ada tujuan dan keinginan yang kuat akan sesuatu. Setiap orang berbeda, ada yang benar-benar menata rencana hidupnya dengan tujuan-tujuan yang dimiliki. Ada juga yang terlalu pasrah sama hidup sampai-sampai nggak tau mau ngapain kedepannya. Bisa jadi karena trauma menghadapi kegagalan, atau lelah berusaha dan memikirkan semuanya. Padahal, ada baiknya kalau setiap orang semestinya punya pandangan tentang masa yang akan datang. Kalau bicara soal usaha dan hasil, setiap orang seharusnya berusaha dengan giat mencapai mimpi-mimpinya kemudian bersiap untuk tabah dengan hasilnya. Diibaratkan permukaan koin, hasil juga cuma punya 2 kemungkinan. Gagal atau berhasil. Manusia hanya perlu 'berusaha' dan 'bersiap' menerima hasilnya, apapun itu. 

Kalau sebelumnya adalah tentang takut berambisi karena takut gagal yang berasal dari diri sendiri, kali ini adalah soal takut berambisi karena orang lain. Nggak jarang bertemu dengan kondisi dimana ada orang yang terlalu sibuk mengurusi mimpi dan ambisi orang lain, sampai-sampai jadinya menjatuhkan. Se-simple celetukan 'apaan sih ambis banget' hingga 'udah deh nggak usah bermimpi terlalu tinggi'. Mungkin ada perasaan nggak suka lihat orang sekitarnya berhasil, atau memang memiliki penilaian yang buruk terhadap mimpi dan ambisi dari orang sekitarnya tersebut. Lagi-lagi, orang takut berambisi karena nggak mau dipandang 'gimana-gimana' sama orang lain. Sampai akhirnya berhenti dan nggak jadi semangat lagi. Aku sangat percaya kalau semangat untuk mencapai mimpi-mimpi salah satunya tumbuh dari dukungan lingkungan sekitar. 

Lebih baik berambisi dalam diam atau tidak?
Mau diam atau menampakkan, semua adalah pilihan masing-masing. Tapi baiknya, berambisi dalam diam dapat membuat lebih fokus dengan tujuan diri sendiri tanpa memikirkan penilaian dan pengawasan orang lain. Pun kalau memilih untuk menampakkan juga nggak ada salahnya. Bisa jadi dengan orang lain yang mengerti dengan ambisi dan mimpi kita, kita jadi merasa terawasi dan terpacu untuk lebih semangat mencapai keberhasilan. Lebih sederhananya, jadi ada tekanan yang timbul karena hal itu. Selain itu, kita juga bisa dapat banyak dukungan atau terburuknya bakal dapat cemoohan. Hal yang terpenting dari menampakkan ambisi dan mimpi adalah pikiran-pikiran orang lain jangan sampai membuat diri goyah. Apapun pandangan dan penilaian yang didapat, harus tetap tekun berjuang mencapai tujuan. 

Tapi sebenarnya, cemoohan yang timbul dari orang lain nggak cuma bisa mempengaruhi seseorang jadi down. Sebab, di lain sisi, hal itu juga bisa membuat seseorang jadi lebih semangat mencapai keberhasilan untuk membuktikan bahwa ia mampu dan nggak seburuk yang dipandang. Dalam kondisi tekanan, poin yang terbaik adalah bagaimana seseorang dapat memanfaatkan tekanan itu sebaik-baiknya, bukan malah terpuruk. 

Mereka yang punya ambisi mengagumkan
Kalau yang aku amati dari orang-orang sekitar di perkuliahanku, orang-orang yang memiliki ambisi terlihat mengangumkan. Bukan dari ambisi yang dimiliki, tapi dari cara mereka berusaha mencapai ambisi-ambisi itu. Mungkin yang paling sering aku lihat adalah ambisi akademik, organisasi dan lomba sih. Banyak dari mereka yang sering di kampus dan jarang tidur. Mereka yang ambisi organisasi bisa nikmatin banget ketika kumpul-kumpul bersama rekan kerjanya hingga berjam-jam sampai larut malam. Mereka yang ambisi akademik, terlihat lesu saat pagi karena lelah belajar semalaman. Mereka yang ambisi lomba terlihat fokus dengan layar laptop dan enjoy saat berdiskusi dengan tim. Melihat mereka, aku bersyukur bisa berada di lingkungan yang cenderung memanfaatkan waktu masing-masing dengan hal positif. 

Tetap berambisi dan fokus
Sudah seharusnya menjadi seperti itu. Mimpi kita adalah milik kita. Ambisi diri sendiri adalah milik diri sendiri. Bukan saatnya lagi terpengaruh dengan orang lain ketika berjuang demi mimpi. Sebagai milenial, sudah saatnya punya pendirian dan bisa menata rencana kedepannya. Aku berhadap kita semua nggak bakal menyerah buat menggapai pencapaian-pencapaian yang bisa membanggakan diri kita sendiri. Keep fighting and support each other! 

With Love, Tara.
Oktober 16, 2020 No komentar

Untuk yang tersayang, kamu.

Denganmu, aku ingin terbang bersama bulir-bulir ilalang di atas keramaian kota. Membawa jutaan biji-bijian 'tuk memberi elok merpati. Kau di utara, aku di timur. Kita akan berjumpa di tenggara angkasa. Berkisah tentang masing-masing suka duka. Kalau kau mau, kita akan ditemani satu box biskuit cokelat. 

Kala denganmu, aku ingin menyelam di relung tanjung samudera. Memanggil kuda laut 'tuk bersiul bersama. Bila bosan, aku akan berseru pada hiu jinak agar membawa kita berkeliling hutan karang. Aku nahkoda dan kau penumpangnya. Agar tak jatuh, kau harus memelukku. 

Bila denganmu, aku ingin membangun fondasi besi. Tak lupa menyuruh seribu prajurit 'tuk menjaga rumah kita, bilik impianku untukmu. Kau bertugas menanam mawar, aku bertugas menyapu ubin hingga mengkilap. Aku bertugas menghidangkan teh hijau setiap pagi, sedang kau cukup bersantai di dekat aquarium ikan koki. Sesederhana itu, yang ku mau - tentang kita.

Denganmu, aku yakin tenang
Saat ku tak berkawan, dibenci hingga berlinang sebulan penuh, kau menggenggamku kuat tak letih. 
Kau beri aku masakan hangat, padahal perutmu tak pernah kau ajak bersahabat. 
Rasa-rasanya..
Seluruh dunia adalah secuil rempah-rempah ditanganmu.
Mungkin kau tameng sejatiku.

Untuk yang tersayang, bunda
Kadang-kadang, bahkan sering, aku ingin hanya denganmu.
Sebab saat ku tak percaya semua orang, saat ku membenci semua orang, aku hanya ingin denganmu.  Hanya denganmu saja. 
Sebab saat hatiku rumpang, mataku tak sanggup berbinar, kulit tak mampu merasa hangat, aku hanya ingin denganmu. Mendekapmu saja. 

With love, Tara.
Oktober 07, 2020 No komentar

Aku tertarik untuk menulis topik ini karena akhir-akhir ini aku beberapa kali mendengarkan pembicaraan tentang pentingnya ungkapan terima kasih bagi setiap orang. Sebenarnya aku sepakat dengan hal itu, tapi dalam realita yang nggak bisa selamanya mendukung aku coba buat nggak perlu memikirkannya. Lagi-lagi aku ingat, kalau kebahagaiaan dan kepuasan diri sendiri bukan tanggung jawab orang lain, termasuk dalam hal balasan 'terima kasih'.

Terima kasih dan prasangka buruk 
Sebelumnya aku sering berprasangka buruk dengan orang yang pernah aku bantu namun tak sedikitpun menghargai walau dengan sekedar ucapan terima kasih. Aku pikir, orang yang pernah aku bantu ini nggak beretika, nggak bisa menghargai orang lain, atau mungkin nggak bisa menilai kebaikanku. Padahal, bisa aja orang itu lupa atau lagi fokus dengan hal lain. Atau bisa juga, orang itu sengaja karena ingin membalas kebaikanku di lain waktu dan menganggap ucapan terima kasih bukan satu-satunya parameter untuk menghargai orang lain. Lagi-lagi, pada saat ini dipikiranku muncul stigma kalau dalam berhubungan dengan orang lain, semua hanya tentang timbal balik.

Mengubah niat ketika akan berbuat kebaikan
Seringkali ada beberapa niat yang muncul ketika akan berbuat kebaikan: impress people - berharap dipuji, mengharapkan sesuatu dari orang lain yang dibantu, berharap menjadi pusat perhatian. Atau berniat tulus membantu orang lain, memuaskan diri sendiri, memupuk pahala dan karena sesederhana 'ingin aja'. Menurutku semua niat itu sah-sah aja dan nggak ada yang salah. Dari semua macam niatan itu, yang perlu diperhatikan adalah impact apa yang kita dapat setelah melakukan kebaikan dengan salah satu niat diantara macam niat tersebut. 

Menurut pengalamanku, ketika aku melakukan kebaikan dengan niat untuk mengesankan orang lain tapi tujuan itu nggak tercapai, aku akan merasa kebaikan yang sudah kulakukan sia-sia dan menyesal telah melakukannya. Tapi kalau tujuan untuk mengesankan orang lain itu tercapai, maka nggak bisa dipungkiri kalau muncul rasa tinggi hati. Atau ketika aku melakukan kebaikan dengan niat mengharapkan balasan dari orang lain tapi tujuan itu nggak tercapai, aku akan berperasangka buruk ke orang itu dan muncul pikiran kalau nggak mau bantu orang itu lagi. Tapi kalau tujuan itu tercapai, kedepannya aku jadi terus-terusan pakai niat tersebut ketika akan melakukan kebaikan karena berekspektasi orang lain akan membalas kebaikanku lagi. 

Tapi, rasanya beda ketika berniat melakukan kebaikan karena memang ingin tulus berbuat baik. Niat tersebut cukup sulit digunakan karena kembali lagi pada kodrat manusia sosial kalau membutuhkan penghargaan atas sesuatu yang pernah dilakukan. Solusinya, bagiku melakukan kegiatan dengan niat untuk memuaskan diri sendiri adalah pilihan yang paling tepat. Yup! nggak ada habisnya ngomongin soal kepuasan diri sendiri yang diciptakan oleh diri sendiri. Sebab melakukan kebaikan untuk memuaskan diri sendiri memiliki efek luar biasa untuk jadi bangga dan bersyukur. Bangga dalam artian bisa mencapai title orang baik pada versi diri sendiri, bersyukur dalam artian masih diberi kesempatan untuk berbuat kebaikan dalam sisa waktu hidup yang berharga. Lebih dari itu, nggak perlu lagi ngehabisin waktu dan pikiran untuk berprasangka buruk dengan menunggu balasan dari orang lain. 

Berhenti menceritakan kebaikan yang pernah dilakukan
Seringkali memang suka dengan sendirinya bercerita tentang kebaikan yang pernah kita lakukan ke lawan bicara kita. Walaupun sebenarnya, nggak ada niatan pamer sedikitpun. Tapi bisa juga menceritakan kebaikan karena mengharapkan simpati dari lawan bicara akan kebaikan yang sudah kita lakukan, sebab merasa nggak dihargai dari orang lain yang sudah dibantu sebelumnya. Mungkin nggak ada salahnya dengan kedua hal tersebut, yang salah adalah menceritakan kebaikan kita ke lawan bicara karena mengharapkan pujian. Nggak apa, tapi akan jadi kecewa sendiri kalau ternyata nggak dapat pujian yang diharapkan sebelumnya. Jadi baiknya, belajar menyimpan sendiri kebaikan yang pernah dilakukan untuk menghindari niat yang salah tersebut. 

Tentang timbal balik
Hubungan sosial adalah soal timbal balik. Tapi sayangnya, kita nggak bisa mengontrol pikiran orang untuk berpikiran yang sama ketika berinteraksi dengan kita. Kalau orang lain nggak bisa memiliki pemikiran yang sama nggak masalah, sebab yang terpenting adalah kita harus berusaha untuk selalu memiliki pemikiran soal timbal balik ke siapa saja. Menghargai kebaikan orang lain yang pernah kita terima nggak melulu soal materi yang berhagra, bisa juga dengan meluangkan waktu untuknya, menjadi teman sharing yang baik, memberi kejutan kecil seperti masakan atau kue yang kita buat, atau yang paling sederhana namun spesial adalah memberi ungkapan terima kasih yang tulus. Dalam hal ini ketika berinteraksi dengan orang lain, pemikiran timbal balik hanya berlaku 'oleh' diri kita saja. Belajar untuk berhenti menaruh ekspektasi akan timbal balik dari orang lain. Tapi kalau ternyata ada, sudah semestinya jadi banyak bersyukur. 

Tulisanku kali ini lebih tepatnya menjadi reminder untuk diriku sendiri. Buat yang sudah baca semoga bermanfaat dan yang penting tetap semangat berproses menjadi lebih baik:)

With Love, Tara. 

Oktober 04, 2020 No komentar
Newer Posts
Older Posts

About

Hi, welcome to my diary :)

Label

  • Academic
  • Personal
  • Puisi
  • Random
  • Review
  • Travelling

Popular Post

  • WHAT'S IN MY CAMPUS BAG? (ENGINEERING STUDENT)
  • THERE WILL ALWAYS BE A ‘BEGIN AGAIN’
  • SHORT TRIP IN BANDUNG, FINALLY KE KOTA IMPIAN MASA KECIL
  • PUISI: ALKISAH SEKOTAK RANTANG
  • ANOTHER DAY IN BANDUNG: KULINER & WISATA SEJARAH
  • PUISI: GALAKSI DALAM POTRETMU
  • 23, SELAMAT ULANG TAHUN!
  • HAL POSITIF DARI PANDEMI COVID-19
  • DI SUATU MINGGU SORE
  • THINGS I LEARNED AFTER 2+ YEARS GRADUATION

Archive

  • ▼  2026 (4)
    • ▼  April (2)
      • PUISI: GALAKSI DALAM POTRETMU
      • PUISI: ALKISAH SEKOTAK RANTANG
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2024 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2023 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2022 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (13)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2020 (30)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (9)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (3)

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *

Follow Us

Community



FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates