Dinding bambu, rumbai nyiur, atau alas abu-abu
Ah, semua menyatu dalam sekotak rantang bersusun lima itu
yang kau simpan dalam rak terbawah lemari jati
Hingga lupa terhidangkan, alih-alih kesemutan
Mak, maafkan daku bila tak sempat menjamu sewedang kunir asam di setiap petang. Bersama lelah jemari yang perlu ku urut, atau deras keringat yang basah membasuh kulit kuningmu.
Mak, bilamana merah senja adalah puisi langit yang beku, sudikah kau tertidur menghirup panoramanya?
Ia lebih harum dari semerbak adonan roti belanda,
lebih nikmat dari ramuan tumis yang kau seduh tiap Selasa
Mak, adakah pintu yang terlentang di ambang muara teluk?
Sesekali memberi jalan bagi gadis kecil yang hobi menangis tengah malam
Berkata tak ingin didekap, padahal sangat rindu memeluk erat
Mak, mengapa alkisah cinta anak remaja bagaikan payung yang cekung?
Manis dari luar, bertubi di dalam
Maka bolehkah aku mendengar sabdamu setiap malam sebelum pulas?
Mak, rautmu kian kusut, tapi aku sering merengut
Mak, wajahmu kian keriput, tapi aku malah luput
With love, Tara.
























